{"id":4919,"date":"2019-04-27T08:17:13","date_gmt":"2019-04-26T23:17:13","guid":{"rendered":"http:\/\/www.binmasnokenpolri.com\/?p=4919"},"modified":"2019-04-27T08:17:13","modified_gmt":"2019-04-26T23:17:13","slug":"ada-kampung-kelinci-ciptaan-binmas-noken-polri-di-kabupaten-lanny-jaya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.papuaresearchstudy.com\/index.php\/2019\/04\/27\/ada-kampung-kelinci-ciptaan-binmas-noken-polri-di-kabupaten-lanny-jaya\/","title":{"rendered":"Ada \u201cKampung Kelinci\u201d Ciptaan Binmas Noken Polri di Kabupaten Lanny Jaya"},"content":{"rendered":"<div id='gallery-1' class='gallery galleryid-4919 gallery-columns-2 gallery-size-medium'><figure class='gallery-item'>\n\t\t\t<div class='gallery-icon landscape'>\n\t\t\t\t<a href='https:\/\/www.papuaresearchstudy.com\/wp-content\/uploads\/2019\/04\/1-49.jpg'><img loading=\"lazy\" loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"300\" height=\"200\" src=\"https:\/\/www.papuaresearchstudy.com\/wp-content\/uploads\/2019\/04\/1-49.jpg\" class=\"attachment-medium size-medium\" alt=\"\" \/><\/a>\n\t\t\t<\/div><\/figure><figure class='gallery-item'>\n\t\t\t<div class='gallery-icon landscape'>\n\t\t\t\t<a href='https:\/\/www.papuaresearchstudy.com\/wp-content\/uploads\/2019\/04\/2-9.jpg'><img loading=\"lazy\" loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"300\" height=\"200\" src=\"https:\/\/www.papuaresearchstudy.com\/wp-content\/uploads\/2019\/04\/2-9.jpg\" class=\"attachment-medium size-medium\" alt=\"\" \/><\/a>\n\t\t\t<\/div><\/figure>\n\t\t<\/div>\n\n<p>Tribratanews.papua.polri.go.id Polda Papua \u2013 Warga Kampung Pulonngu Distrik Tiom, Kabupaten Lanny Jaya-Papua sukses membudidayakan ternak kelinci melalui Program Binmas Noken Polri karena bahan makanan bagi kelinci itu sendiri tersedia melimpah di daerah itu apalagi kelincinya adalah kelinci lokal yang berasal dari kabupaten Lanny Jaya, sehingga warga setempat menyebut kampung itu, \u201cKampung Kelinci Ciptaan Binmas Noken Polri\u201d, Rabu 24\/04\/2019.<\/p>\n<p>Disela-sela kunjungan Kasatgas Binmas Noken Polri Kombespol. Dr. Eko Rudi Sudarto, dan Profesor Hermawan Sulistyo ke Spot peternakan kelinci Binaan Binmas Noken Polri di kampung itu, Edonius Tabuni ketua kelompok Peternakan Kelinci saat dimintai keterangan menjelaskan bahwa, dikabupaten Lanny Jaya, memang banyak tersedia kelinci-kelinci lokal namun, kelinci tersebut tidak ter-urus dengan baik sehingga jumlah kelinci didaerah itu semakin berkurang.<\/p>\n<p>Edonius menambahkan, Ketika Binmas Noken Polri melihat hal ini, kami didatangi dan disarankan untuk membuat kelompok beternak kelinci sehingga kelinci-kelinci lokal yang ada di kabupaten Lanny Jaya ini bisa dijaga habitatnya.<\/p>\n<p>\u201cKami menerima Program Binmas Noken Polri dan kini kami telah membuat kelompok beternak kelinci dengan tujuan agar kelinci-kelinci lokal ini bisa terurus dengan baik dan berkat dari Binaan Binmas Noken Polri, Kini Masyarakat kami menyebut nama kampung kami dengan sebutan \u201cKampung Kelinci\u201d, ungkap Edonius.<\/p>\n<p>Lanjut Edonius, Kami berterima kasih kepada Binmas Noken Polri yang telah bekerja keras membantu kami dalam hal membimbing dan membina kami agar kami bisa mandiri dalam mengelola potensi-potensi sumber daya alam kami dengan baik sehingg nantinya dapat membatu kami dalam meningkatkan perekonomian kami di Kabupaten Lanny Jaya ini.<\/p>\n<p>Penulis : Vicktor Merani<\/p>\n<p>Editor : Sosra Papua<\/p>\n<p>Publish : Rendy<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Tribratanews.papua.polri.go.id Polda Papua \u2013 Warga Kampung Pulonngu Distrik Tiom, Kabupaten Lanny Jaya-Papua sukses membudidayakan ternak kelinci melalui Program Binmas Noken Polri karena bahan makanan bagi kelinci itu sendiri tersedia melimpah di daerah itu apalagi kelincinya adalah kelinci lokal yang berasal dari kabupaten Lanny Jaya, sehingga warga setempat menyebut kampung itu, \u201cKampung Kelinci Ciptaan Binmas Noken [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":4920,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[83,79,81],"tags":[],"class_list":["post-4919","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","category-headline","category-peternakan","category-umum"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.papuaresearchstudy.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4919","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.papuaresearchstudy.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.papuaresearchstudy.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.papuaresearchstudy.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.papuaresearchstudy.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=4919"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/www.papuaresearchstudy.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4919\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.papuaresearchstudy.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/4920"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.papuaresearchstudy.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=4919"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.papuaresearchstudy.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=4919"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.papuaresearchstudy.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=4919"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}